“Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal” (Amsal 17:10)
Baru-baru ini saya sedang geleng-geleng kepala dan terlalu heran. Kenapa cukup banyak orang bebal di Indonesia ini? Dan yang saya prihatin adalah bahwa orang yang bebal itu adalah saudara seiman sendiri. Cukup prihatin saya dengan fenomena seperti ini. Jangan bicara tentang pemulihan dan reformasi bangsa. Ditegur saja sudah cukup keras kepala, apalagi mau maju bersama-sama.
Untuk mengenal hati BAPA, seseorang harus mau untuk ditegur dan diajar. Itulah salah satu cara agar mendapat bagian di dalam Kerajaan ALLAH. Kita akan menyelidik Amsal 17:10. Di dalam amsal tersebut dikatakan lebih baik menghardik orang yang berpengertian daripada ratusan kali memukul orang bebal. Dilihat dari efisiensi waktu dan tenaga, sekali hardikan pada orang berpengertian sudah cukup membuat ia cepat mengerti akan kesalahannya dan memperbaiki diri. Sedangkan, jika kita… sudah menghardik, ditambah dengan satu dua pukulan…. dan ditambah lagi dengan ratusan pukulan… orang itu tetap tidak mau berubah juga, hal tersebut merupakan sebuah pemborosan energi jika orang bebal tersebut tidak segera mengkoreksi dirinya.
Setengah kesaksian juga, baru-baru ini saya bertemu dengan orang model begini. Jika dia adalah saudara dari kepercayaan yang lain, saya memaklumi, akan tetapi ini adalah saudara seiman sendiri. Ada salah satu pemahamannya tentang Kasih BAPA yang kabur dan menurut saya perlu dikoreksi… tetapi semakin lama saya beri penjelasan, semakin dia tidak mengerti dan pada akhirnya menuduh saya berkata ngawur…. duh…. suatu hal yang bagi saya amat luar biasa. Maksudnya luar biasa keras kepala dan luar biasa keras hatinya.
Kemudian dengan hal ini, saya bertanya kepada Roh Kudus, apa yang harus saya lakukan dengan saudara saya seperti ini. Kemudian Roh Kudus membukakan saya supaya membuka Markus 6:11
” Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”
Tidak dikatakan bahwa kita harus membenci mereka, akan tetapi di dalam ayat ini, Yesus berkata agar kita tidak usah memusingkan perkara lagi dengan mereka. Sebagai simbol bahwa kita tidak mau ambil pusing lagi dengan mereka dengan aksi ‘mengibaskan debu’ di kaki. Saudara-saudara yang terkasih… perhatikan aksi ini. Terkadang, di dalam memberitakan injil, ada saja orang yang tidak mau mendengarkan, keras kepala, bahkan cenderung mendebat. Di dalam argumentasi kita, pastilah ada kata-kata ataupun tindakan yang menyakiti tanpa disadari satu sama lain. Maka dari itu, ketika kita menyudahi pembicaraan, mengibaskan debu berarti melepaskan semua rasa jengkel hingga ke level terkecil sekecil debu sekalipun, sehingga kasut kita tetap bersih akan kerelaan memberitakan injil (Efesus 6:17).
Nah, setelah melalu perdebatan yang panjang, baik melalui forum maupun email, akhirnya saya memutuskan untuk ‘mengibaskan debu’ saja terhadap dia. Biarlah dia mempertanggung jawabkan pada pemahamannya yang keliru tersebut. Sekarang saya menyerahkan saudara seiman saya yang malang ini ke dalam Kasih BAPA. Biarlah BAPA menyatakan Kasih dan Keadilan yang sesungguhnya terhadap orang ini.
Perlu saudara-saudara seiman ketahui, adalah hal yang sering terjadi di dalam memperdebatkan Firman ALLAH di lingkup Indonesia daripada di luar negeri. Orang di luar negeri cukup hormat di dalam menerima hal yang baru dan saling memperlengkapi satu sama lain… tetapi saya banyak temukan tipe ‘Orang Farisi’ dan ‘Ahli Taurat’semua di tanah air sendiri. Tidak heran, bangsa kita kalah maju… karena memang senang mengadu domba sendiri walaupun tanpa ada yang mengadu dombanya.
Biarlah kiranya tulisan ini membuat anda dan saya semakin mengoreksi diri, dan membuat kita semakin giat untuk memberitakan injil serta berwaspada agar kita tidak menjadi orang yang bebal…